Keenam Anak Muyang Mersah

Keenam Saudara Merah Mege akhirnya lari, pertama kali lari ke Ishaq karena malu. Namun begitu diketahui Raja dan kemudian akan disusul mereka lari kembali ke Tukel kemudian membuka daerah yang bernama Jagong, dikejar kembali sampai akhirnya ke Serbe Jadi (Serbajadi Sekarang). Dikejar terus anaknya, karena rasa sayang, setelah rasa marahnya Raja tersebut hilang. Namun mereka sudah amat malu kepada ayahnya akhirnya mereka sepakat untuk berpisah dengan catatan akan menyebarkan Agama Islam pada daerah yang akan ditempatinya.

Pertama Merah Bacang, si sulung, pergi ke batak untuk mengembangkan Islam ke daerah Barus, Tapanuli.

Yang ke-2 Merah Jernang ke Kala Lawe, Meulaboh.

Yang ke-3 Merah Pupuk Mengembangkan agama Islam ke Lamno Deye antara Meulaboh dan Kute Reje

Yang ke-4 dan ke-5 Merah Poteh Dan Merah Item di Belacan, di Merah Dua (sekarang Meureudu) masih ada kuburannya.

Yang ke-6 Merah Silu ke Gunung Sinabung, Blang Kejeren

Merah Sinabung

Merah Silu mempunyai seorang anak yang bernama Merah Sinabung (Dalam bahasa Gayo Merah Sinabang). Merah Sinambung ternyata lebih berwatak sebagai Panglima, sehingga hoby adalah mengembara. Sampai ia berada pada suatu daerah yang sedang berperang. Perang yang terjadi antaran Kerajaan Jempa dan Samalanga. Kerajaan Jempa waktu itu sudah beragama Islam, hingga akhirnya ia menawarkan bantuan kepada Raja Jempa tersebut dan berhasil memenangkan peperangan dengan Kerajaan Samalanga. Jasa baiknya tersebut akhirnya membuat Raja Jémpa menikahkan putrinya kepada Merah Sinabung.,

Keduanya mempunyai 2 orang anak yang bernama Malik Ahmad dan Merah Silu. Setelah Merah Sinabung wafat maka naiklah Malik Ahmad menjadi Raja Jempa, akan tetapi ada syak wasangka terhadapa Merah Silu, karena ia lebih berbakat dan lebih alim serta lebih dicintai rakyatnya maka timbul kecemburuan yang terjadi.

Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan maka Merah Silu akhirnya pergi ke daerah Arun, Blang Sukun, untuk menghabiskan waktunya ia bekerja sebagai pande emas, besi dan barang logam lainnya sedangkan malamnya ia mengajar mengaji.

Lama kelamaan orang sekitar menjadi mengenal Merah Silu sebagai Mualim, tokoh masyarakat, akhirnya menjadi Reje di Lhoksmawe. Sehingga kemudian ia diangkat menjadi Sultan Pase pertama atau disebut dengan Sultan Malikus Saleh. Sebutan daerahnya Pase merupakan sebutan yang diambil dari nama anjing yang telah menyelahamatkan Datunya, Merah Mege.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama